Entri yang Diunggulkan

Minggu, 02 Desember 2018

(BUKAN) COBAN TALUN, TAPI PAGUPON CAMP : Jelong-jelong paling konyol dalam sejarah traveling kami







Jadi gini. 


Saya pengen ke Coban Talun yang kondangnya luar biasa itu udah sejak kapan tahun. Ngerengek-rengek ke suami nggak pernah diturutin. Baru hari ini dia mau diajakin ke sana. Girang banget donk saya. 


Sejak sebelum ke sana, saya sempat dua kali tanya teman. Berapa sih harga tiketnya? Mereka semua jawab harga tiket masuk Rp 10.000, tapi nanti kalau mau foto di spot-spot foto bayar lagi. OK.

Mungkin di sini salahnya kami ya. Saya terlalu overrated pernyataan di atas. Bayangan saya adalah : bayar tiket masuk Rp 10.000, dan kami akan dapat panorama taman yang rapi seperti layaknya tempat wisata alam. Lalu di seputar panorama tersebut, akan ada spot-spot selfie/foto yang untuk berfoto di dalamnya akan dikenakan biaya. Kalau bayangannya seperti ini, maka kami nggak merasa seperti dipaksa harus bayar ke semua spot. Karena toh sekedar duduk-duduk di bagian dalam area yang sudah tercover tiket Rp 10.000 itu pun udah oke. Tinggal nanti pilih mau nambah foto di spot selfie mana.

Jadi ibarat sekedar nambah topping di pilihan menu ramen. Bayar untuk ramennya, nambah bayar untuk toppingnya, yang kalau nggak nambah topping pun, ramennya masih bisa dinikmati apa adanya. Ngerti maksud saya sampai sini kan? 


Ternyata salah besar Sodara-sodara.

Pergi ke sana sama sekali nggak seperti makan ramen dan nambah topping. Tapi seperti bayar untuk sekedar dapat tempat duduk, dan bayar lagi untuk ramennya, dan bayar lagi untuk toppingnya (yang harga topping sama besar dengan harga ramen). 

Oke saya ngerti mahal murah itu relatif. Buat orang-orang di luar sana yang hidup berkelimpahan dan biasa pergi ke Jatim Park sekeluarga setiap dua minggu sekali, tiket Coban Talun ini nggak ada apa-apanya. Tapi buat saya, yang budget hidupnya harus diatur seketat mungkin, beneran nggak rela bayar segitu. 

Adakah perasaan tertipu? Ya, kalau mau pakai istilah yang ekstrim, saya merasa 'tertipu'. 


Pertama, karena ada banyak page wisata yang mengiklankan 'Coban Talun' dengan foto 'Pagupon Camp' (padahal untuk masuk Pagupon Camp harus bayar tiket yang berbeda. Sementara foto panorama si coban/air terjun sendiri nggak pernah diangkat). 

Kedua, karena sesungguhnya tempat ini adalah sebuah komplek wisata. Masing-masing tempat ini adalah hidangan utama. Main course! Bukan topping! 


Jadi SEHARUSNYA, loket di gerbang masuk dimundurkan jauh ke belakang, menuju ke arah air terjun. Karena yang disebut dengan 'tiket masuk Coban talun' adalah benar-benar tiket menuju ke coban/air terjun. Yang jaraknya cukup jauh dari parkiran, ditempuh dengan jalan kaki (seperti wisata air terjun pada umumnya). Itu baru fair!

Kalau loket tiket untuk air terjun diletakkan di depan gapura seperti sekarang, maka semua pengunjung yang nggak punya ketertarikan untuk jalan sehat ke air terjun dan hanya ingin berfoto di tempat wisata lain seperti yang diiklankan di page-page wisata seperti kami (saya sebut 'tempat wisata lain' alih-alih 'spot foto' karena kenyataannya area untuk tempat-tempat ini sangat luas, tersebar, dan punya boundary wilayah sendiri. Sehingga menyebutnya sebagai 'spot foto' sungguh mengecilkan artinya) akan TERPAKSA harus membayar dua kali (atau lebih).

Rp 10.000 per orang di gerbang masuk, lalu Rp 10.000 atau Rp 5.000 per orang lagi di tempat-tempat wisata lain (Pagupon Camp, OYOT, Rumah Terbalik, Apache Camp, dll). 

Jadi kalau ditanya berapakah harga tiket masuk Coban Talun? Jawaban yang benar adalah : MULAI dari Rp 10.000, dan naik terus tergantung di mana kamu berdiri. Kalau maksudmu datang kemari adalah untuk berfoto di Pagupon Camp aja, maka harga tiketnya adalah Rp 20.000 per orang. Kalau mau ke Pagupon Camp dan OYOT, maka harganya Rp 25.000 per orang. Kalau ditambah lagi dengan Rumah Terbalik mungkin bisa sampai Rp 35.000 per orang. Kalau mau versi lengkap seluruh komplek, entah berapa lagi uang yang harus disediakan (saya nggak tanya detail keseluruhan harga tiket). 


Lalu seandainya saya mau menikmati 'ramen apa adanya tanpa tambahan topping whatsoever', apa yang bisa didapat? Jujur, saya nggak bisa bilang. Karena sejak awal kami memang nggak ada niat mengunjungi air terjunnya. Yang bisa kami saksikan saat memasuki area depan hanyalah tempat parkir, deretan warung-warung, dan dereta toko-toko baju/souvenir. Plus lapangan rumput untuk berkemah dan menunggang kuda (bayar lagi Rp 10.000 buat kudanya). Padahal yang saya bayangkan adalah taman rapi, yang setidaknya menyediakan tempat duduk, dengan view yang bisa dilihat. 

(Kalau kamu adalah pecandu jalan kaki jarak jauh, silahkan share pendapat kamu tentang pemandangan di seputar air terjunnya).
*parkiran*

*denah. yeah, paling nggak dengan bayar Rp 10.000/orang saya bisa lihat denah*

*kuda untuk ditunggangi*

*daftar komplek wisata*

*pemandangan ke arah gerbang masuk dari parkiran*


Benar-benar kalah jauh dari yang ditawarkan coban-coban lain. 

Coban Bidadari adalah wisata air terjun di desa Gubukklakah yang menyediakan baaaaanyaak sekali spot selfie berlatar belakang perbukitan yang cantiknya mengalahkan bidadari beneran. Cukup bayar Rp 15.000 per orang, dapat all in dari air terjun sampai selfie sepuasnya. 

Coban Cinde yang lokasinya begitu terpencil, bisa menata tamannya dengan sangat rapi dan cantik. Memisahkan area parkir dan tempat bersantai. Walau saat itu saya nggak menyambangi air terjunnya karena malas jalan kaki, tapi sama sekali nggak ada perasaan nggak ikhlas atas uang yang dibayarkan. 


Tapi di sini? 
Sumpah saya cemberut sepanjang waktu. Nggak lama juga waktu yang kami habiskan di sini. Mungkin kisaran 30 menit. Sebenarnya dari 10 menit pertama pun saya sudah pengen balik kanan. Mumpung masih 'kena' Rp 20.000 aja. Tapi anak saya minta foto-foto. Karena nggak mungkin saya foto dia dengan background barisan motor di parkiran, akhirnya terpaksa kami masuk ke Pagupon Camp.

Baguskah? Bagus. Indah. (Saya harus jujur donk, walau hati mendongkol). Kalau kamu punya banyak duit, bisa dapat foto-foto cantik di sini. 








Seolah penderitaan kami belum cukup, ada kisah nyebelin yang kembali terjadi. 

Syahdan, kami melihat sebuah spot foto dengan kursi-kursi cantik yang kosong (setelah mengantri tentunya). Lalu kami pun beranjak ke sana. Anak saya sudah duduk di kursi. Saya dan suami berdiri, menyetel penempatan handphone di tongsis. Lalu tanpa badai tanpa aurora, datang segerombol ibu-ibu. Salah satu dari mereka bahkan berdiri tepat di samping saya dengan handphone di tangan. 

Saya, yang merasa aneh dengan kelakuan tante-tante ini, menoleh padanya dengan pandangan "what the f*ck?". Lalu dengan santai si tante berkata "permisi ya" dengan memberi isyarat bahwa dia mau berfoto di tempat itu. 

I was kind of freeze out. Bayangkan. Dia lihat sebuah spot foto dengan keluarga yang sudah lebih dulu berada di sana, sedang mengatur tongsis dan gaya. How STUPID could she be? How BLIND could she be? Gimana bisa dia berkata "permisi ya" dengan gaya mengusir kami agar dia dan gerombolannya bisa berfoto di sana??? 

Tentu aja saya langsung jawab "saya juga mau foto" dengan senyuman yang ibarat silet pasti bisa mencabik-cabik muka-foundation-terlalu-tebalnya. Lalu dia pun menjawab "oh" lalu duduk. Iya, duduk. Di kursi tepat di samping saya. Mencurigakan. Jangan-jangan dia terjangkit penyakit 'photobomb-wannabe' sehingga harus selalu berada di dalam bingkai foto orang-orang asing. 

Kami pun mengatur angle tongsis agar hanya ada saya, suami, dan Pimon yang berada dalam frame.

Heran lihat kelakuan para pecinta selfie sekarang ini. Udah kayak orang mabok sampai nggak kenal sopan santun. Bolehlah kita ngomong the power of emak-emak, tapi tahu diri juga doooooonkk!!!

*inilah si kursi sengketa*

Lalu hujan pun datang. Si Pimon yang pasti histeris kalau kena air hujan mulai merengek minta pulang. Berhubung perasaan saya juga lagi nggak enak, akhirnya kami memutuskan untuk secepatnya minggat dari sana. 

Untuk mengobati kekecewaan karena belum sempat duduk santai sambil makan roti bakar dan mangga potong yang dibawa dari rumah sebagai bekal piknik, kami pun berpindah ke bumi perkemahan Bedengan. Di sana, saya dan Pimon main di sungai dengan senyum yang lebih ikhlas dan perasaan yang lebih ringan. Sampai kilat dan guntur membuyarkan kesenangan kami. 

*di Bedengan, Dau*


Sungguh sebuah pengalaman berharga untuk mengetahui bahwa price and value adalah dua hal yang berbeda. 



Rabu, 31 Oktober 2018

TRIP KENEGARAAN : LUMAJANG


Kenapa judulnya trip kenegaraan? Karena ini perjalanan untuk sambang keluarga. Bukan untuk senang-senang sendiri. Dan seperti perjalanan resmi lainnya, trip seperti ini selalu nggak jelas di awal apakah akan menyenangkan atau menyebalkan. 

Icon perjalanan


Jadi ceritanya, saya sendiri pun nggak begitu kenal dengan keluarga di sana kecuali sama kakak kandung sendiri. Disebabkan karena saya diadopsi oleh orang tua angkat sejak usia 2 bulan. Dan di Lumajang ini adalah tempat keluarga dari ibu kandung saya tinggal. Itulah kenapa saat di awal perjalanan saya nggak tahu bakal seperti apa situasinya di sana nanti. Apa mereka akan senang karena saya datang, atau malah judging karena selama ini saya nggak pernah ke sana.

Emang sih, terakhir kali saya ke Lumajang itu kira-kira waktu masih umur 7 atau 8 tahun. Jadi udah lebih dari 20 tahun lalu. Kakak ipar saya selalu cerewet setiap kali dia berkunjung ke Malang. Nyuruh-nyuruh untuk main ke sana. Nah kebetulan, Sabtu lalu adalah waktu yang cocok. Jadilah saya ngajakin suami, ibu mertua, dan adik ipar untuk jalan ke Lumajang sama-sama biar rame. (Sekaligus biar nggak jiper ngadepin keluarga besar di sana. Apalagi ibu mertua dan adik ipar kan tipe orangnya ‘rame’. Suka cerita, suka ngobrol, gampang buka pembicaraan. Nggak kayak saya dan suami yang klop sama-sama nggak bisa basa basi).

Singkat cerita, berangkatlah kami dari Malang jam 9.15 pagi.  Loh, kok siang banget? Bukannya tadi ditulis perjalanan pulang pergi dalam sehari? Iyeee kan nunggu ibu mertua datang dari Krian dulu. Mereka berangkat dari sana selepas subuh, tapi baru bisa sampai Malang kisaran jam 8 pagi walau udah lewat tol. Gara-garanya ada macet panjang di jalur langganan macet Lawang – Singosari. Habis itu masih makan pagi dulu. Jadilah kami baru mulai perjalanan saat matahari udah lumayan tinggi. 

Perbatasan Kab. Malang - Kab. Lumajang.



Jalan masuk ke Goa Tetes



Karena rumah kakak ini ada di wilayah desa Yosowilangun Kidul yang notabene adalah Lumajang selatan paling timur (perbatasan dengan Jember), tentu kami ambil jalur selatan lewat Dampit. Kontur jalanan yang berkelok-kelok khas daerah perbukitan sempat bikin saya grogi karena si Pimon biasanya akan mual. Sejak sebelum berangkat, tuh bocah udah saya siram pake minyak kayu putih banyak-banyak, terus dikasih antimo dan tolak angin anak. Walhasil, perjalanan baru sampai wajak dia udah molor sodara-sodaraaaa. Padahal jalanan di sana masih lurus dan datar.

Eh giliran masuk Dampit dia melek donk.

Bolak balik saya bilangin : “kalau mual, atau pusing atau nggak enak badan bilang ya”.
Yang diikuti dengan : “kalau muntah, di papa aja. Soalnya mama nggak bawa baju ganti”.

Ups!

Untungnya walau dia sempat  panas dingin gara-gara mobil  yang terus mliyat-mliyut dihajar kontur jalanan, si Pimon nggak sampai muntah. Dua kali kami sempat berhenti supaya dia bisa kena angin segar. Yang pertama saat baru masuk daerah Pronojiwo, dan kedua, tentu aja, di seputar jembatan Gladak Perak, Piket Nol yang femes itu.

Adik-adik ipar saya, yang belum pernah ngelewati jalanan Malang – Lumajang, ngotot minta foto-foto dulu di Piket Nol. Mereka terkesima lihat truk-truk penambang pasir/batu di kanal lahar yang dari atas jembatan Gladak Perak Baru kelihatan mini. Adik yang paling kecil juga sibuk ber-ahh-ohhh saat lihat pemandangan bukit-bukit dan jurang. Maklum, di Krian adanya cuma Ramayana. Hahaha. Jahat banget ya. Tapi emang bener kok. Orang Krian kalau mau lihat pemandangan gunung ya tujuannya cuma ke Pacet, Mojokerto. Karena cuma di sana yang dekat. Beda donk dengan anak Malang yang ke barat gunung, ke timur gunung, ke selatan gunung, ke utara macet ini. Eaaaaa *kibas poni*.  

Jembatan Gladak Perak Baru

Kanal aliran lahar dingin dari Semeru tepat di bawah jembatan Gladak Perak Baru

Jembatan Gladak Perak lama yang sudah tidak difungsikan




Dari jauh kelihatannya seperti jembatan menembus tebing



Akhirnya kami baru sampai di kediaman kakak saya tepat jam 2 siang. Bener-bener deh. Some trip. Si Pimon aja sampai ketiduran lagi begitu masuk Pasirian. Sementara yang orang dewasa pada kelaparan. Untunglah pemandangan meja makan rumah kakak saya sungguh menentramkan hati. Sampai terharu karena kakak ipar rupanya bela-belain nyembelih ayam kampungnya buat kami. Saya, yang sudah hapal kebiasaan orang di desa, cukup ambil separuh centong nasi. Tapi adik-adik ipar dan pak suami – yang sebenarnya juga udah ku-sounding juga soal ini tapi rupanya udah lupa karena perut keroncongan – malah ngambil makanan dengan porsi normal. Maklum juga sih, emang udah lewat jam makan siang.

Masalahnya, di desa itu ada satu kebiasaan. Kalau punya 10 saudara, maka kamu akan diajakin makan di 10 rumah. Ada 5 rumah yang dikunjungi, maka akan diajakin makan di 5 rumah juga. Begitulah.

Jadi setelah lewat Ashar kami mulai keliling ke saudara-saudara yang lain, adik-adik iparku melongo karena di mana-mana disuruh makan. Hahaha. Saya cuma bisa nyuruh mereka menabahkan hati sambil bilang “Ambilah barang satu dua sendok, yang penting makan. Biar yang udah masak nggak kecewa”. Oh plus ngetawain juga sih. Habis ekspresi mereka lucu banget waktu kekenyangan.

Beneran deh Tuhan Maha Adil. Kami yang dalam perjalanan sempat kelaparan, ternyata langsung dibayar kontan di tujuan dengan makanan berlimpah.

Ronde ke 4

Ngomong-ngomong, seperti yang sempat  disebut di awal, bahwa saya nggak begitu kenal saudara-saudara di sana. Jadi begitu ada banyak yang nyambut, saya harus narik-narik baju kakak dulu untuk ngebisik “Ini siapa? Itu siapa? Kalau yang itu anaknya siapa?”. Bahkan saat ada kakak sepupu yang pembawaannya ramah dan langsung ngajakin ngobrol ini itu, saya sempat melempar pandangan “I don’t even know who she is” pada pak suami.

Di kunjungan kemarin jugalah saya baru tahu bahwa saya masih punya nenek dari pihak ibu. And that Pimon still has a great grandma. So silly, isn’t it? Tapi Alhamdulillah kunjungan kami ke sana ternyata cukup menyenangkan. Pimon? Jangan ditanya. Girang banget karena bisa ngasih makan ayam dan bebek, juga bermain-main sama saudara-saudara kecil yang seumuran. Give her animals to be fed or toys she can play together with another toddler, and she’ll be all set. No single complain would ever come out of her mouth. What a simple life!

Berhubung ada begitu banyak saudara yang perlu dikunjungi dalam waktu singkat, kami baru bisa pulang kembali ke Malang pada jam 20.00 malam. Padahal waktu berangkat udah dicita-cita mau pulang jam 4 sore aja biar nggak kemalaman, dan biar bisa mampir beli durian di penjual yang tersebar di sepanjang perjalanan masuk Lumajang. Yo jelas mustahal wal mustahil itu.

Oleh kakak ipar, mobil kami ditemani hingga masuk jalanan Jalur Lintas Selatan supaya bisa langsung bablas ke Piket Nol tanpa perlu memutar lewat daerah Kerai, Kunir, Tempeh dan Pasirian. Enak sih jalannya luruuussss aja. Tapi malam itu sepiiiiii banget. Mana nggak ada penerangan jalan lagi (sepertinya belum selesai penggarapan, karena ada bagian jalan yang sepanjang kurang lebih 1 km masih berupa jalanan sirtu). Padahal malam minggu loh itu. Rumah-rumah di pinggir jalan juga pada tutup, nggak ada sedikit pun orang nongkrong. Saat kami jalan, hampir nggak ada mobil / kendaraan roda empat yang searah dengan kami. Hanya ada satu - dua truk yang berjalan ke arah berlawanan, dan beberapa motor. Oh ada sih anak-anak cowok nongkrong di satu titik, pada mau balapan kayaknya.

Selain itu? Cuma ada seorang tukang bakso pakai motor yang berhenti di kegelapan. Sumpah. Di tengah-tengah jalur lintas selatan yang gelap pekat tanpa lampu. Sendirian tanpa pembeli yang menemani. Antara motornya bocor di tengah-tengah jalur creepy begitu atau emang dia lagi nunggu langganan yang biasa pesan “Bang.... baksonya seratus mangkok.... hihihi”

Begitu kami keluar dari jalur lintas selatan dan kembali memasuki peradaban manusia, hujan pun turun. Semakin deras saat memasuki daerah Candipuro, makin berkabut di daerah Piket Nol, dan baru berhenti setelah memasuki wilayah Ampelgading. Duduk sampai nggak rileks. Tahu kan di piket nol itu nggak ada penerangan padahal jalanannya ada di perut gunung. Kanan tebing, kiri jurang. Mata yang ngantuk pun nggak dirasa lagi.

Begitu sampai Ampelgading, kami berhenti di sebuah warung kopi yang masih buka. Waktu itu jam udah menunjukkan pukul 23.00 malam. Hujan tersisa rintik-rintik, bikin si Pimon rewel minta cepat pulang. Padahal ini hot chocolate masih umeb di gelas! (Should be called boiled chocolate instead of hot chocolate). Saat sedang nyruput minuman panas pelan-pelan, pandangan saya jatuh pada lukisan di dinding warung. Gambar seorang anak berambut kriwul yang sedang memegang gelas.  Image itu masih terbayang-bayang di kepala hingga sekarang. Cek aja di bawah, dan kalian akan mengerti kenapa.

Entah kenapa, lukisan ini berasa creepy, serem-serem gimanaaaa gitu. Padahal anak aslinya lucu banget. Ini lukisan icon warung kopi yang diambil dari figur putri si pemilik sendiri. Masalah jelas ada pada pelukisnya, menurut saya.

Kami baru touch down di kota Malang kisaran jam 01.00 dini hari, hari Minggu. Punggung dan pinggang rasanya mrotol jaya. Saya sendiri baru bisa tidur jam 02.00 setelah bersih-bersih rumah, ngegantiin diaper bapak, dan nyuci baju. Tidur malam itu benar-benar luar biasa rasanya. Kayak pingsan begitu nyentuh bantal. Tapi baruuuuu aja sedetik terlelap (atau rasanya seperti sedetik), ternyata pagi udah menjelang.

Maan ... belum juga ngimpi.

Senin, 08 Oktober 2018

GRUP KEPENULISAN ITU ...

Beberapa bulan lalu salah seorang teman bilang : “mbak, gabung grup KBM donk. Itu grup kepenulisan. Foundernya seorang penulis terkenal dan suaminya”

Penasaran, saya coba-coba ngintip ke sana. Waktu pertama baca peraturan grup, saya lihat ada peraturan yang menyebutkan bahwa setiap anggota diharapkan untuk berani berpartisipasi mengirimkan karya sekaligus aktif memberi kritik dan saran pada sesama penulis. Sebagai bentuk pembelajaran, katanya.

Sejujurnya, waktu baca peraturan yang itu kening saya mengernyit. Agak nggak sreg. Karena yang bergabung di sana kan bukan semuanya penulis profesional (kalau nggak bisa dibilang mayoritas adalah penulis pemula yang masih belajar). Kritik dari orang yang berpengalaman dan memiliki kredibilitas, hampir bisa dipastikan adalah kritik yang membangun dan obyektif. Tapi jika diberikan oleh sesama pemula, saya khawatir akan melenceng dari tujuan pembelajaran. Bisa jadi itu hanya berupa hujatan subyektif, atau tudingan yang hanya berdasarkan pada kedengkian atau rasa iri hati.

Bagi saya, sebuah kelas baru bisa disebut kelas ketika ada guru yang mengajar. Bukan sesama murid yang berkumpul untuk saling mengoreksi.

Tapi ya weslah, kan memang begitu peraturannya dari para founder. Mungkin mereka punya pertimbangan yang lebih jauh ketimbang pemikiran saya yang jelata ini.

Jaaaaadddiiiiiii saya pun bergabung.

To my surprise, nyatanya kekhawatiran itu sama sekali nggak terbukti.

Kenapa? Begitu baguskah karya-karya di sana hingga nggak ada yang mengundang hujatan tak berdasar?

Hehehe ... tentu tidak.

***

Selama beberapa bulan bergabung, saya mengamati kecenderungan para pembaca dan komentator. Dan penelitian saya bermuara pada satu kesimpulan. Bahwa kebanyakan pembaca di grup ini berperilaku seperti almarhumah Mama saat lagi nonton sinetron. Alih-alih memberi kritik dan saran yang obyektif, mereka biasanya malah ikut terhanyut dalam cerita yang disuguhkan. Ikut bersedih bagi tokoh protagonis, ikut menyalahkan kelakuan karakter antagonis, membubuhkan kisah pribadi pada naskah yang mirip (atau dimirip-miripkan dengan kisah pribadi), atau malah menanyakan perihal jalan cerita pada sang author.

“Kasian ya si Upik Abu. Kalau aku jadi dia juga pasti nggak tahan digituin terus. Mending pulangkan saja aku pada orang tuaku. Hiks... hiks..”

“Gemesssss sama kelakuannya Cendol Darodol! Harusnya dia yang nyungsep ke got, ketiban gerobak ketoprak, trus bisulan sampai segede gajah beranak! Benci benci benciiiiii!!!!!”

“Cerita ini mirip banget sama diriku. Minjemin uang teman karena kasihan, tapi begitu nagih malah aku yang ngemis. Gitu deh nasib orang baik. Makanya kalau sekarang ada yang mau pinjam, aku suruh sekolahin aja BPKB ke BPR atau koperasi. Hora sudi minjemin uang lagi” (orang baik tapi kok mendorong orang lain ke jurang riba. Wkwk loudly)

 “Loh, kok si Cintralala jadian sama Ranggrandong sih? Harusnya sama Memetamen aja. Gimana nih author? Si Ranggrandong itu kan playboy cap minyak tanah. Jadi nggak greget deh ceritanya”

Dan sebagainya ... dan seterusnya ...


Sementara pembaca sisanya, hanya membubuhkan komentar irit berupa “jejak” atau “next” atau “jjk” (menandakan mereka suka dengan postingan tersebut, ingin tahu kisah kelanjutannya, tapi terlalu malas berkomentar panjang lebar).

Kesimpulan : grup adem ayem karena memang nggak ada kritik. Bukan karena seluruh postingan jempolan banget hingga lolos screening kritik. Penyebabnya ya itu tadi. Karena semua murid. Jadi nggak ada yang mumpuni memberi kritik.

Apakah itu terjadi 100% pada seluruh postingan? Nggak. Masih ada orang-orang baik hati yang sudi meluangkan waktu untuk memberi masukan pada postingan-postingan tertentu. Walau mereka mencoba untuk menulis dengan kata-kata santun (kecuali kalau ada yang udah parah banget nggak tertibnya soal tanda baca, biasanya yang begini langsung disemprot banyak orang). Sayangnya, ini nggak terjadi terlalu sering. Dan kritikan santun ini biasanya ‘kalah’. Tenggelam oleh komentar a la penikmat sinetron di atas.

Sesungguhnya saya berharap para penulis profesional yang juga ada di grup itu mau memberikan masukan pada tulisan para anggota pemula. Tapi saya mencoba berpikiran positif bahwa mereka ini juga manusia yang punya pekerjaan dan kesibukan di dunia nyata sehingga nggak punya waktu untuk memelototi satu per satu setiap postingan yang masuk (walau sungguh, saya berharap sebaliknya).

Sampai hari itu, grup ini cukup mengecewakan bagi saya. Hampir nggak ada ilmu baru yang bisa saya dapatkan dari sana kecuali soal Elipsis yang dengan baik hati telah dibagikan oleh seorang penulis berpengalaman.

*Note : Harap diingat saya baru bergabung selama beberapa bulan. Jika sebelum masa saya bergabung ada ribuan ilmu lain yang telah tertuang di sana, tentu saya tidak tahu menahu. Penilaian ini hanya sebatas masa-masa di mana saya telah bergabung menjadi anggota.*

***
Lalu, tanpa diduga tanpa dinyana.

Tiba-tiba saja negara api sebuah akun yang menamakan dirinya KBM kritik menyerang.

Dia muncul out of the blue dengan daftar cerbung yang mendapat ribuan likes dan meminta partisipasi seluruh anggota untuk berani mereview. Dalam postingan itu pula si pemilik akun memberikan reviewnya bagi salah satu judul. Tanpa tedeng aling-aling, dia memuji dan memaki. Dia mengangkat dan menjatuhkan. Dia tunjukkan mana kelemahan, dan mana kelebihan. Dia bilang tanpa sungkan mana karya yang pantas mendapatkan atensi publisher, mana yang hanya sekedar versi lain dari sinetron tukang-siomay-naik-umroh-dengan-5.743-episode.  Mana tulisan yang pantas dikagumi, dan mana yang hanya sekedar populer.


Seketika, jagad KBM heboh.

Dua orang penulis cerbung patah arang (jumlah mungkin masih bisa bertambah mengingat hingga hari ini akun KBM kritik masih menyentuh sedikit sekali naskah), kubu pro dan kontra kontan tercipta di kalangan pembaca, dan ramai-ramai orang menerka siapakah sosok di balik akun misterius ini.

Ini baru seru, pikir saya.

Para penggemar cerbung dari penulis yang memutuskan untuk hengkang dan vakum melayangkan protes. Menyebut sumber hiburan mereka terhenti hanya karena kritik ‘tidak bermutu’ yang diberikan oleh sebuah akun tak jelas. Akun pengecut yang bahkan nggak berani menunjukkan jati diri.

Sementara di kubu seberang, orang-orang berebut ingin direview karya tulisnya oleh KBM kritik. Mereka menyatakan diri sebagai penulis pecinta kritik. Bahwa dikritik itu demi kebaikan. Dan mereka butuh pelajaran dari orang yang berpengalaman. (walau saya nggak yakin mereka nggak akan berputus asa seperti dua penulis sebelumnya kalau karya mereka benar-benar habis dikritik)

Perseteruan ini sudah nggak ada bedanya dengan kubu kampret cebong di dunia nyata. *ups!

***
Gimana dengan saya ?

Oh saya cenderung mendukung keberadaan KBM kritik di grup. Dia mengisi ruang kosong yang seharusnya telah terisi sejak lama. Sebagai tambahan info, menurut pemilik akun ini – yang rupanya sudah bergabung sejak bertahun lalu – KBM dulunya adalah sebuah wadah yang dipenuhi pemikiran kritis. Tapi hal itu memudar seiring waktu hingga pada akhirnya menjadi grup yang terombang ambil tanpa arahan dan bimbingan penulis senior. Hal itulah yang membuatnya kembali dan menghidupkan lagi fungsi review.

Tapi meskipun sangat menyetujui apa yang dilakukan oleh KBM kritik, saya sendiri nggak terlalu terobsesi oleh keberadaannya. Bagi saya, reviewnya pun nggak 100% undebatable. Seperti saat akun ini mengkritisi keputusan seorang penulis untuk mengambil latar belakang negeri lain sebagai background kisahnya, dan bukannya Indonesia. Menurutnya, itu karena si penulis malas meriset budaya dalam negeri. Begitu juga soal gaya penulis yang terlalu ‘terjemahan’. Menurutnya pula, gaya bahasa seperti itu bukan favorit pasar Indonesia.

Saya pernah baca novel Life of Pi. Karya dari Yann Martel yang berkewarganegaraan Kanada. Kisah buku ini menceritakan tentang kehidupan seorang bocah India beserta keseharian dan petualangannya. Lalu ada pula novel-novel seperti Cleopatra’s Daughter, Nefertiti, dan Nefertari yang ditulis oleh Michelle Moran yang berkewarganegaraan Amerika Serikat. Buku-buku ini berkisah mengenai kehidupan Firaun wanita pada masa Mesir kuno.

Jadi soal penulis yang berasal dari negara X tapi menulis mengenai kehidupan di negara Y, sama sekali bukanlah hal asing selama eksekusinya bagus dan nggak ngawur. Lalu mengenai gaya penulisan yang terlalu terjemahan, saya rasa nggak tepat juga kalau dibilang itu bukan pasar Indonesia. Bukankah novel-novel terjemahan juga laris manis di negeri ini? Seri Mr. Potter yang menghebohkan jagad raya termasuk Indonesia itu tulisan orang mana memangnya?

Walau betul sekali, bahwa identitas Indonesia yang disajikan dengan indah adalah sebuah kekayaan literasi yang patut dipertahankan. Seperti gaya penulisan Andrea Hirata yang begitu berciri Melayu, contohnya. Tapi itu hanya gaya. Gaya adalah matter of taste bagi saya. Ada yang suka, ada  yang nggak. Seperti musik aja. Bukan soal benar salah.

Terlepas dari hal-hal di atas, kebanyakan saya setuju sih dengan kritik-kritik yang diberikan oleh akun tersebut. Dan memang, kalau ingin jadi penulis yang baik ya sedikit banyak harus bisa menerima kritik dan masukan. Terkadang ada hal-hal yang nggak terpikirkan oleh diri kita, yang kemudian muncul dalam kritikan orang. Ambil aja, masukkan dalam laci perbendaharaan, gunakan sebagai amunisi untuk tulisan berikutnya. Lah kan emang dari peraturan grup juga udah disebutkan harus sanggup dikritik dan mengkritik?

Seperti soal ide. KBM kritik berkata bahwa terlalu banyak penulis di grup itu yang mengangkat ide-ide basi. Persoalan menye-menye khas kesukaan emak-emak. Saya setuju. Dan ini pula salah satu penyebab saya sangat jarang membaca tulisan-tulisan di grup tersebut. Karena itu bukan jenis tulisan yang saya suka, meskipun adalah tema populer. Persoalan ini bisa diatasi dengan mencontoh film-film remake. Ada banyak film lama yang sesungguhnya sudah basi, tapi ketika di-remake menjadi fresh karena diambil dari sudut pandang yang berbeda.

Contohnya? Maleficent.

Kisah tentang putri tukang tidur adalah kisah basi. Cerita lama sejak berabad lalu. Tapi film itu menyajikan point of view yang berbeda, yaitu dari sisi si peri jahat. Apa yang membuatnya jadi jahat, apa yang membuatnya mengutuk si putri, kepahitan apa saja yang dia alami hingga melakukan hal itu. See? Kisah lama, tapi dengan gaya cerita baru. Jadi kalau pun ada penulis yang memang idenya hanya di seputar hal-hal populer, cobalah untuk memutar sudut pandang. Agar ide lama tetap bisa terasa baru.

Intinya, buka pikiran. Kosongkan gelas. Hilangkan persepsi. Perlakukan sebuah karya sebagai sebuah kesatuan utuh yang berada di luar tubuh kita. Saat ada kritik masuk, pandangilah karya tersebut. Putar-putar, bolak balik. Jika memang kritikan itu sanggup mengisi retak-retak halus pada karya, maka terimalah. Jangan jadikan sebuah karya sebagai bagian dari diri kita, yang kita bawa siang malam, yang kita timang sampai dini hari, hingga setiap saran dan masukan yang datang bahkan sanggup melukai diri kita secara personal pula.

***

Well, udah panjang ya yang saya tulis? Haha.

Jadi apakah saya akan tertarik untuk menghabiskan lebih banyak waktu di grup tulis menulis itu karena akun kritis ini muncul? Entah. Mungkin nggak juga. Masalahnya, saya sendiri punya pekerjaan dan hobi. Saya punya hobi membaca buku. Benar-benar buku. Bukan tulisan digital. Dan saya sangat menikmati membaca buku bagus.

Saya juga sedang menulis. Benar-benar menulis naskah. Untuk mencari keuntungan. Naskah yang sedang saya upayakan untuk bisa menembus penerbitan mayor, no matter what it takes. Lagipula, pasar grup KBM berbeda dari yang saya sasar. Selera pembaca yang berbeda dengan idealisme saya membuat grup itu nggak terlalu potensial digunakan sebagai lahan promosi. Bukan sekali dua kali pembaca di KBM berkata bahwa mereka keberatan membaca cerbung yang harus berakhir dengan PO. Sementara seperti yang saya tulis di atas, saya menyusun naskah untuk mencari keuntungan materi (oh ya, saya nggak munafik soal ini, meskipun memang itu adalah bagian dari hobi).

Tapi bukan berarti saya akan keluar juga. Toh masih ada ilmu yang bisa didapat. Sejatinya ini grup yang bagus kok. Hanya kurang partisipasi dari yang sudah berjam terbang tinggi. Hingga banyak peserta yang bagai ayam tanpa kepala. Seruduk sana seruduk sini tanpa tahu jalan mana yang harus ditempuh.


P.S :

Saya pernah mengkritik teknis penulisan seorang author yang sudah mendapat ribuan like. Bukannya diterima dengan pikiran terbuka, dia malah menjadi defensif. Inilah kekurangan penulis media sosial yang populer. Mereka terlena oleh ribuan like yang biasa didapatkan hingga menjadi sensitif terhadap masukan. Menurut mereka, ribuan like itu berarti ribuan pemuja. Hingga 1 kritikus hanyalah dianggap sebagai remahan sampah.

Mereka lupa bahwa film-film superhero Marvel yang sukses secara komersial nggak ada yang pernah diakui sebagai film terbaik di ajang penghargaan seperti Academy Award atau Golden Globe Award. Film-film yang diakui bagus oleh kritikus film yang mumpuni, justru biasanya bukanlah film-film yang populer di pasaran.

Karena popularitas dan kualitas sesungguhnya bukanlah dua nilai yang saling berkaitan.


Ellen Thiastiane